PENGARUH JARAK TANAM DAN TAKARAN PUPUK NITROGEN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KACANG PANJANG (Vigna sinensis L.)

I.    PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang
Kebutuhan akan sayuran dataran rendah seperti kacang panjang terus meningkat (Abu Haerah, 1998). Kacang panjang merupakan jenis sayuran yang dapat dikonsumsi dalam bentuk segar maupun diolah menjadi sayur, memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap (protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, besi, vitamin B dan C), dan kandungan protein nabati pada sayur kacang panjang berkisar 17% - 21% (Irfan, 1995). Dalam program UPGK (Usaha Perbaikan Gizi Keluarga), kacang panjang dapat memberikan sumbangan yang besar bagi kesehatan tubuh. Disamping itu kacang panjang termasuk salah satu komoditas sayuran yang diutamakan, dikembangkan secara nasional berdasarkan kepentingan gizi (Ciptono, 1998).
Tanaman kacang panjang merupakan salah satu komoditas sayuran yang sangat potensial untuk dikembangkan, karena mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. Selain itu peluang pemasaran kacang panjang masih luas karena tidak hanya dijual di pasar-pasar tradisional, tetapi juga telah banyak dipesan di pasar swalayan, sehingga menjadikan tanaman kacang panjang ini menjadi peluang usaha dalam budidaya pertanian. Tanaman kacang panjang telah lama di budidayakan di Indonesia dan sebagai salah satu penopang kebutuhan keluarga. Bahkan dibeberapa tempat kacang panjang merupakan sumber utama ekonomi keluarga. Oleh karena itu usaha untuk meningkatkan produktivitas kacang panjang perlu terus dilakukan.
Produktivitas kacang panjang di tingkat petani sangat rendah yaitu 2 - 3 ton/ha. Data statistik Kabupaten Subang pada tahun 2009 menunjukkan bahwa produktivitas kacang panjang hanya mencapai 2,75 ton/ha (Dinas Pertanian Kabupaten Subang, 2009). Produktivitas ini jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan potensi hasil kacang panjang yang bisa mencapai 7 - 9 ton/ha polong segar (Kartapraja dan Susomo, 1999).
Menurut Iwan Juhardi (1999), rendahnya hasil tanaman bukan hanya disebabkan oleh teknik bercocok tanam yang belum intensif, kurang tepatnya pengendalian hama dan penyakit, tetapi juga masih kurangnya pengetahuan petani tentang pengaturan jarak tanam dan pemupukan yang tepat dalam penyediaan unsur hara terutama nitrogen, fosfat dan kalium secara seimbang.
Dalam suatu pertanaman sering terjadi persaingan antar tanaman maupun antara tanaman dengan gulma untuk mendapatkan unsur hara, air, cahaya matahari maupun ruang tumbuh. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan pengaturan jarak tanam. Dengan tingkat kerapatan yang optimum maka akan diperoleh Indeks Luas Daun (ILD) yang optimum dengan pembentukan bahan kering yang maksimum (Effendi, 1997). Jarak tanam yang rapat akan meningkatkan daya saing tanaman terhadap gulma karena tajuk tanaman menghambat pancaran cahaya ke permukaan lahan sehingga pertumbuhan gulma menjadi terhambat, disamping juga laju evaporasi dapat ditekan (Dadi Resiworo, 1997). Namun pada jarak tanam yang terlalu sempit mungkin tanaman budidaya akan memberikan hasil yang relatif kurang karena adanya kompetisi antar tanaman itu sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan jarak tanam yang optimum untuk memperoleh hasil yang maksimum.
Pengaturan populasi tanaman pada hakekatnya adalah pengaturan jarak tanam yang berpengaruh  pada persaingan dalam penyerapan hara, air dan cahaya matahari, sehingga apabila tidak diatur dengan baik akan mempengaruhi hasil tanaman. Jarak tanam rapat mengakibatkan terjadinya kompetisi intra spesies dan antar spesies. Kompetisi yang terjadi utamanya adalah kompetisi dalam memperoleh cahaya, unsur hara dan air. Beberapa penelitian tentang jarak tanam menunjukkan bahwa semakin rapat jarak tanam, maka semakin tinggi tanaman tersebut dan secara nyata berpengaruh pada jumlah cabang serta luas daun.
Selain pengaturan jarak tanam, faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman, yaitu pemupukan, sehingga efisiensi pemupukan diperlukan ditinjau dari sisi ekonomi dan lingkungan. Oleh karena itu, selain usaha untuk meningkatkan hasil produksi tanaman juga harus meminimalkan kehilangan nutrisi ke lingkungan atau areal pertanian. Pada prinsipnya upaya peningkatan efisiensi penggunaan pupuk dapat dilaksanakan melalui dua pendekatan yaitu : (1) peningkatan kesuburan tanah jangka panjang dan (2) modifikasi produk pupuk yang lebih efisien. Pendekatan pertama ditempuh melalui usaha peningkatan daya dukung tanah dengan input hayati, baik berupa bahan organik maupun mikroorganisme.
Pupuk merupakan salah satu komponen teknologi yang telah terbukti memiliki peranan penting dalam peningkatan produksi berbagai komoditas pertanian. Tujuan pemupukan antara lain adalah memberikan tambahan unsur hara bagi tanaman agar kebutuhan hara selama pertumbuhannya tercukupi yang selanjutnya akan mendukung pertumbuhan dan hasil yang lebih baik bagi tanaman (Pinus Lingga, 1999).
Nitrogen merupakan salah satu unsur makro yang diperlukan tanaman dalam pertumbuhannya. Peranan nitrogen bagi tanaman adalah untuk merangsang pertumbuhan secara keseluruhan, baik batang, cabang, akar dan daun serta mendorong terbentuknya klorofil, sehingga daunnya menjadi hijau, karena klorofil berguna bagi proses fotosintesis (Pinus Lingga, 1999).
Pengaturan jarak tanak dan pemberian pupuk nitrogen merupakan suatu alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam usaha meningkatkan hasil kacang panjang, sehingga perlu diketahui secara pasti peranan masing-masing faktor dalam mempengaruhi komponen pertumbuhan dan komponen hasil. Dari penelitian ini diharapkan dapat diketahui dosis pupuk nitrogen dan jarak tanam yang tepat, sehingga kerugian yang disebabkan oleh gulma dapat ditekan sekecil mungkin yang pada akhirnya akan diperoleh hasil kacang panjang yang lebih tinggi.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka untuk memperoleh informasi yang lebih jelas perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaturan jarak tanam dan penggunaan pupuk nitrogen dengan asumsi pupuk nitrogen dapat mendorong terbentuknya klorofil sehingga dapat meningkatkan laju fotorespirasi dan kondisi tersebut dapat dikompensir dengan penggunaan jarak tanam yang tepat.
1.2        Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dikemukakan identifikasi masalah sebagai berikut :
1.    Apakah terdapat pengaruh jarak tanam dan takaran pupuk nitrogen terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang panjang (Vigna sinensis L.) ?.
2.    Jarak tanam dan takaran pupuk nitrogen mana yang berpengaruh baik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang panjang (Vigna sinensis L.) ?.
1.3        Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1.    Pengaruh jarak tanam dan takaran pupuk nitrogen terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang panjang (Vigna sinensis L.)
2.    Jarak tanam dan takaran pupuk nitrogen yang berpengaruh baik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang panjang (Vigna sinensis L.)

Setiap penelitian diharapkan mempunyai manfaat bagi peneliti sendiri maupun bagi masyarakat. Dalam penelitian ini manfaat yang diharapkan adalah :
1.    Memberikan informasi teknologi dalam usaha meningkatkan hasil kacang panjang
2.    Memberikan informasi mengenai jarak tanam dan takaran pupuk nitrogen yang tepat untuk tanaman kacang panjang
3.    Menambah pengetahuan peneliti dan masyarakat tentang budidaya tanaman kacang panjang

1.4      Kerangka Pemikiran
Pertumbuhan dan hasil tanaman ditentukan oleh pengaturan jarak tanam dan ketersediaan unsur-unsur hara, baik makro maupun mikro. Unsur hara makro yang banyak diserap oleh tanaman diantaranya nitrogen, fosfor, kalium, dan magnesium, oleh karena itu untuk mendapatkan hasil yang tinggi dengan kualitas yang baik diperlukan tanah dengan hara yang cukup tersedia dan mudah diserap oleh tanaman.
Menurut Waxn dan Stoller (1997) pada dasarnya pemakaian jarak tanam yang rapat bertujuan untuk meningkatkan hasil, asalkan faktor pembatas dapat dihindari sehingga tidak terjadi persaingan antar tanaman. Di samping itu pengaturan jarak tanam yang tepat juga untuk menekan pertumbuhan gulma, sehingga persaingan tanaman dengan gulma dapat dihidari. Hal tersebut memberikan indikasi bahwa penggunaan jarak tanam merupakan salah satu unsur penting untuk diperhatikan dalam bercocok tanam, dalam upaya mengusahakan tanaman terhindar dari persaingan baik dari segi keperluan cahaya maupun pengambilan unsur hara.
Menurut Soetikno Sastroutomo (1998), unsur hara yang dipersaingkan oleh tanaman adalah nitrogen, fosfor, sulfur dan kalium. Dengan demikian adanya peningkatan pertumbuhan tinggi tanaman pada jarak tanam yang lebar disebabkan adanya ruang tumbuh yang baik bagi pertumbuhan tanaman tersebut.
Menurut Mul Mulyani Sutejo (1997), banyaknya unsur hara yang diserap tanaman dan sekaligus terbawa dari tanah harus dikembalikan melalui pemupukan dalam jumlah yang sama atau seimbang. Pemupukan adalah setiap usaha pemberian hara yang bertujuan untuk peningkatan produksi dan mutu hasil tanaman. Nitrogen merupakan unsur hara utama bagi pertumbuhan tanaman, sebab merupakan penyusun semua dari protein dan asam nukleat, dengan demikian merupakan penyusun protoplasma secara keseluruhan. Nitrogen pada umumnya sangat diperlukan untuk pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman, misalnya dalam pembentukan daun dan batang. Peranan unsur nitrogen terpenting adalah sebagai penyusun atau bahan dasar dan pembentukan protein (Saifuddin Sarief, 1986). Nitrogen mempunyai fungsi :
1)    Membuat bagian-bagian vegetatif tanaman menjadi lebih hijau
2)    Mempercepat pertumbuhan tanaman (menambah tinggi tanaman dan merangsang jumlah anakan)
3)    Menambah ukuran dan memperbaiki kualitas daun
4)    Menambah kadar protein
5)    Menyediakan bahan-bahan makanan bagi jasad-jasad renik yang bekerja menghancurkan bahan organik di dalam tanah.
Hasil penelitian Subagyo (2004), menunjukkan bahwa penggunaan jarak tanam 40 cm x 60 cm dapat meningkatkan tinggi tanaman, banyaknya cabang/tanaman, dan hasil tanaman kacang panjang.  Selanjutnya hasil penelitian Zainal Arifin (2005), menunjukkan bahwa penggunaan jarak tanam 50 cm x 60 cm memberikan hasil kacang panjang tertinggi dibandingkan dengan penggunaan jarak tanam lebih rapat maupun jarak tanam lebih lebar. Hasil penelitian Riwanodja, Purwaningrahayu dan T. Adisarwanto (2002), bahwa  pemberian pupuk Nitrogen sebanyak 100 kg Urea/ha dapat meningkatkan hasil kacang panjang 17% lebih tinggi dibandingkan tanpa N (kontrol). Pemberian pupuk N sebanyak 100 kg/ha Urea menghasilkan bobot segar kacang panjang tertinggi yaitu 8,53 ton/ha.
Hasil penelitian Suwandi, Nunung Nurtika dan M. Husna (2006), menunjukkan bahwa penggunaan jarak tanam dan takaran pupuk nitrogen secara nyata mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman kacang panjang.  Kombinasi perlakuan jarak tanam 40 cm x 60 cm dan pupuk nitrogen 100 kg Urea/ha, memberikan hasil tanaman kacang panjang sebesar 7,05 ton/ha Selanjutnya berdasarkan hasil penelitian Neni Maryani (2007), menunjukkan bahwa kombinasi jarak tanam dan takaran pupuk nitrogen memberikan pengaruh yang nyata terhadap hasil panen kacang panjang. Kombinasi perlakuan jarak tanam 40 cm x 60 cm dan takaran pupuk 46 kg N/ha, memberikan hasil panen tertinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Dilihat dari hasil total (panen I dan II) perlakuan kombinasi jarak tanam 40 cm x 60 cm dan takaran pupuk 46 kg N/ha memberikan hasil kacang panjang sebesar setara 6,72 ton/ha.
1.5     Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagi berikut :
1.    Terdapat pengaruh nyata antara jarak tanam dan takaran pupuk nitrogen terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang panjang (Vigna sinensis L.)
2.    Terdapat salah satu jarak tanam dan takaran nitrogen optimum yang memberikan pertumbuhan dan hasil kacang panjang terbaik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar