PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) KULTIVAR CP 1

I.   PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang
Jagung menempati posisi penting dalam perekonomian nasional karena merupakan sumber karbohidrat dan bahan baku industri pakan dan pangan. Di samping bijinya, biomas hijauan jagung diperlukan dalam pengembangan ternak sapi. Kebutuhan jagung dalam negeri untuk pakan sudah mencapai 4,9 juta ton pada tahun 2005 dan menjadi 6,6 juta ton pada tahun 2009 (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2009). Peluang ekspor semakin terbuka mengingat negara penghasil jagung seperti Amerika, Argentina, dan Cina mulai membatasi volume ekspornya karena kebutuhan jagung mereka meningkat.
Jagung (Zea mays. L.) merupakan kebutuhan yang cukup penting bagi kehidupan manusia dan hewan. Jagung mempunyai kandungan gizi dan serat kasar yang cukup memadai sebagai bahan makanan pokok pengganti beras. Menurut Suprapto (1997), dalam 100 g bahan jagung mengandung 2,4 g protein, 0,4 g lemak, 6,10 g karbohidrat, 43 mg kalsium, 50 mg fosfor, 1,0 mg besi, 95,00 IU vitamin A dan 90,30 g air. Selain sebagai makanan pokok, jagung juga merupakan bahan baku makanan ternak. Kebutuhan akan konsumsi jagung di Indonesia terus meningkat. Hal ini didasarkan pada makin meningkatnya tingkat konsumsi perkapita per tahun dan semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia. Jagung merupakan bahan dasar/bahan olahan untuk minyak goreng, tepung maizena, ethanol, asam organic, makanan kecil dan industri pakan ternak. Pakan ternak untuk unggas membutuhkan jagung sebagai komponen utama sebanyak 51,40%.
Penelitian oleh berbagai institusi pemerintah maupun swasta telah menghasilkan teknologi budidaya jagung dengan produktivitas 4,5 - 10,0 ton/ha, bergantung pada potensi lahan dan teknologi produksi yang diterapkan (Subandi dkk., 2006). Produktivitas jagung nasional baru mencapai 3,4 ton/ha (Hafsah, 2004, Departemen Pertanian 2008). Salah satu faktor yang menyebabkan besarnya senjang hasil jagung antara di tingkat penelitian dengan di tingkat petani adalah lambannya proses diseminasi dan adopsi teknologi. Berbagai masalah dan tantangan perlu diatasi dalam diseminasi teknologi. Teknologi yang didiseminasikan kepada petani pun harus memenuhi sejumlah persyaratan. Selain itu, kebijakan pemerintah dalam hal diseminasi teknologi diperlukan untuk mendukung pengembangan agribisnis jagung.
Selama periode tahun 2005 - 2009 pertumbuhan produksi tanaman jagung di Kabupaten Subang secara konsisten mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2005 produksi jagung sebanyak 18.795 ton biji pipilan kering, meningkat menjadi 26.263 ton biji pipilan kering pada tahun 2009, terjadi peningkatan produksi padi sebesar 7.468 ton biji pipilan kering, atau terjadi peningkatan produksi jagung sebesar 7,95% per tahunnya. Untuk lebih jelasnya perkembangan luas panen, produksi dan produktivitas jagung dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Jagung (Periode 2005 – 2009)
Tahun    Luas Panen (ha)    Produksi (ton)    Produktivitas (ton/ha)
2005    7.146    18.795    2,63
2006    6.524    19.115    2,93
2007    7.239    21.862    3,02
2008    7.434    23.417    3,15
2009    7.863    26.263    3,34
Rata-rata    7.241    21.890    3,01
Sumber : Biro Pusat Statistik (2009)
Berdasarkan Tabel 1 tersebut, luas panen dan produksi jagung selama tahun terakhir (2005 – 2009) cenderung meningkat, dengan luas panen rata-rata 7.146 hektar per tahun dan produksi rata-rata 21.890 ton per tahun. Walaupun produksi rata-rata jagung mengalami peningkatan, namun produktivitas saat ini baru mencapai rata-rata 3,01 ton per hektar, masih jauh di bawah produktivitas potensial yaitu mencapai 3,40 ton per hektar.
Rendahnya hasil yang diperoleh dari usahatani tanaman jagung disebabkan antara lain oleh penggunaan benih yang kurang unggul dan bermutu, adanya gangguan hama dan penyakit, pengaruh saingan dengan tumbuhan pengganggu dan teknik bercocok tanam kurang baik. Salah satu masalah yang dihadapi dalam upaya peningkatan produktivitas jagung adalah pengaturan jarak tanam. Menurut Badan Pengendali Bimas (1997) pengaturan jarak tanam yang tepat dapat memperkecil persaingan antara tanaman dalam hal pengembalian unsur hara, air, sinar matahari dan ruang tumbuh tanaman. Selain itu jarak tanam yang tepat juga dapat menekan pertubuhan gulama, seinggga persaingan tanaman dengan gulma dapat dihindari.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dipandang perlu melakukan penelitian untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil jagung yang terbaik, yang ditelusuri melalui penelitian tentang pengaruh pengartuarn jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung.
1.2        Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut :
1.    Bagaimana pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil  tanaman  jagung kultivar CP-1 ?.
2.    Jarak tanam manakah yang memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung kultivar CP-1 terbaik ?.
3.    Bagaimana hubungan antara parameter pertumbuhan dengan hasil tanaman jagung kultivar CP-1 ?
1.3        Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :
1.    Pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil  tanaman  jagung kultivar CP-1
2.    Jarak tanam yang memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung kultivar CP-1 terbaik
3.    Hubungan antara parameter pertumbuhan dengan hasil tanaman jagung kultivar CP-1
1.4        Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu, khususnya bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), yang berhubungan dengan pengaturan jarak tana terhadap tanaman jagung ditinjau dari dua aspek (teoritis dan praktis). Selain itu diharapkan dapat memberikan informasi tentang pengaturan jarak tanam dalam teknologi budidaya tanaman jagung untuk petani, dalam usaha meningkatkan produksi jagung kultivar CP-1, serta sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya tentang pengaturan jarak tanam.
1.5     Kerangka Pemikiran
Teknologi budidaya jagung yang ditawarkan, secara teknis, harus dapat memecahkan masalah yang dihadapi petani, dapat meningkatkan efisiensi usahatani, produktivitas, dan mutu hasil panen. Teknologi juga harus memungkinkan untuk dapat diterapkan pada skala usaha dengan sumber daya yang tersedia pada petani, serasi (compatible) dengan pola tanam, sistem usahatani yang ada, dan lebih efisien dibandingkan dengan teknologi yang telah ada.
Tanaan jagung memiliki daya adaptasi yang luas, karena dapat ditanam di berbagai daerah dengan jenis iklim yang berbeda jenis tanah. Tanaman jagung dapat ditanam di dataran tinggi maupun di dataran rendah, Namun untuk pertumbuhan yang baik, sebaiknya ditanam pada tanah yang memiliki struktur tanah yang gembur dan tekstur lempung atau liat berpasir. Hal ini berarti untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil yang baik memerlukan struktur tanah yang baik dengan porositas lancar serta butiran tanah yang sanggup menahan air, sehingga air tidak tergenang terus menerus. Sebaliknya  tanah liat berat dan tanah berpasir tidaklah menguntungkan bagi tanaman jagung (Surapto, 1997).
Salah satu usaha dalam meningkatkan produksi jagung adalah dengan pengaturan jumlah tanaman per hektar atau jarak tanam merupakan faktor penting untuk mendapatkan hasil yang tinggi. Seperti halnya pengolahan tanah, hasil jagung dipengaruhi pula oleh julah tanaman per satuan luas. Penggunaan jarak tanam yang tepat untuk jenis tanaman ditujukan untuk menghindari persaingan antara tanaman dalam penyerapan air, unsur hara, enggunaan cahaya matahari dan persaingan dengan tumbuhan pengganggu. Penggunaan jarak tanam yang tepat sangat penting dalam pemanfaatan sinar matahari secara maksimum untuk proses fotosintesis (Dwidjoseputro, 1989).
Pada jarak tanam antar barisan yang terlalu rapat akan terjadi persaingan antara tanaman dalam menggunakan air, unsure hara dan cahaya matahari, juga menyulitkan dalam pelaksanaan penanaman dan pemeliharaan tanaman. Sedangkan pada jarak tanam antar barisan yang lebih lebar akan berpengaruh terhadap efisiensi peggunaan tempat dan pemberian pupuk.
Menurut Waxn dan Stoller (1997) pada dasarnya pemakaian jarak tanam yang rapat bertujuan untuk meningkatkan hasil, asalkan faktor pembatas dapat dihindari sehingga tidak terjadi persaingan antar tanaman. Di samping itu pengaturan jarak tanam yang tepat juga untuk menekan pertumbuhan gulma, sehingga persaingan tanaman dengan gulma dapat dihidari. Hal tersebut memberikan indikasi bahwa penggunaan jarak tanam merupakan salah satu unsur penting untuk diperhatikan dalam bercocok tanam, dalam upaya mengusahakan tanaman terhindar dari persaingan baik dari segi keperluan cahaya maupun pengambilan unsur hara.
Penggunaan jarak tanam 75 cm x 15 cm pada jagung diperoleh hasil sebanyak 10 ton/ha tongkol, sedangkan pada perlakuan jarak tanam 60 cm x 15 cm diper oeleh hasil 12 ton/ha tonggol (Elly Listiyowati, 2002). Kemudian hasil percobaan Rusminah (2004) menunjukkan bahwa penggunaan jarak tanam 60 cm x 25 cm memberikan hasil tongkol jagung tertinggi yaitu 18 ton/ha tongkol dan berbeda nyata dengan perlakuan jarak tanam yang lebih rapat maupun lebih lebar.
Penggunaan jarak tanam yang berbeda-beda akan berpengaruh terhadap banyaknya populasi tanaman per satuan luas dan secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap penyerapan unsur hara, air dan faktor tumbuh lainnya.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penggunaan jarak tanam yang berbeda diharapkan akan memberikan pengaruh yang berbeda pula terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung.
1.6  Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
1.    Jarak tanam memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung kultivar CP-1
2.    Salah satu jarak tanam memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung kultivar CP-1 terbaik.
3.    Terdapat hubungan erat antara variabel pertumbuhan dan hasil tanaman jagung kultivar CP-1

1 komentar:

  1. Baik, teruskan dengan masalah yang lainnya, terutama tentang masalah sumberdaya air

    BalasHapus